Feature
Feature adalah salah satu Produk Jurnalistik yang masuk dalam keluarga Penulisan Pendapat, dapat juga di artikan sebagai artikel kreatif terkadang bersifat subjektif, yang bertujuan untuk membuat senang dan memberikan informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadan, atau aspek kehidupan.
Contoh Feature dapat kita lihat dibawah ini :
" Etnis Mangokal Hoki Khas Batak Toba"
Sama seperti sore-sore yang sudah aku lalui, sore ini selalu tampak indah untuk aku nikmati, menunggu senja yang menjadi favoritku dalam hidup. Sambil menunggu senja aku selalu duduk di sudut rumah tepat di depan jendela yang menjadi sahabatku. Pemandangan dari jendela semakin menarik karena melihat ayah yang sibuk membersihkan halaman rumah, beberapa menit aku palingkan wajahku melihat lemari buku yang berada di sudut rumah yang berhadapan dengan tempat dudukku, aku melihat beberapa buku tersusun rapi di lemari itu, aku beranjak dari tempat duduk dan mengambil buku yang berjudul "Etnis Mangokal Hoki Khas Batak Toba" aku membaca sekilas dari buku itu, aku melihat bahwa etnis itu merupakan tradisi mistis yang dilakukan suku Batak Toba, aku baru mengetahui ada tradisi seperti ini di suku kami, sangat penasaran dengan hal itu , aku ingin bertanya dan mengobrol dengan ayah di depan rumah membahas tentang hal itu, aku merasa akan lebih memahami etnis ini jika ayah yang menjelaskannya daripada aku membaca buku. Akhirnya aku meletakkan buku itu dan langsung menemui ayah di depan rumah. Aku melihat ayah sudah duduk dan beristirahat kemudian aku mengajak ayah mengobrol. "Yah, tadi aku melihat buku dilemari tempat buku ayah, aku membaca ada etnis Mangokal Holi di suku kita, apa itu Mangokal Holi yah? Aku ingin sekali mengetahuinya lebih dalam." Kata ku pada ayah, "owh.. itu, menarikan duduk di samping ayah , ayah akan menjelaskan itu kepadamu tradisi tersebut. Mangokal Holi adalah tradisi yang dilakukan suku Batak Toba untuk memindahkan tulang belulang leluhur, bagi masyarakat di Sumatera Utara hal ini merupakan ajang untuk menghormati para leluhur, lewat Mangokal Holi ini juga orang Batak berharap mendapati limpahan berkat, berupa banyak keturunan, panjang umur, dan kekayaan. Dan Mangokal Holi ini di anggap dapat mengangkat martabat sebuah marga dengan menghormati orangtua para leluhur. Hal ini juga akan semakin baik apabila di dukung dengan tugu atau makam yg megah. Adapun upacara pada adat ini adalah pertama menggali kembali kuburan para leluhur yang dulunya di kuburkan secara terpisah, kemudian pada keluarga akan melempari uang ke dalam kuburan yang sedang digali agar para penggali semakin semangat, lalu ketika tulang-belulang para leluhur sudah semakin kelihatan uang yang dilempari pun akan semakin besar.
Selanjutnya setelah tulang belulang terlihat semuanya , tulang tersebut akan dikumpulkan dan di cuci bersih, kemudian tukang belulang itu dimasukkan ke dalam kotak atau peti dan dikubur kembali dalam sebuah tugu peringatan yang telah dibangun. Di tugu peringatan inilah tulang belulang para leluhur yang mengadakan Mangokal Holi tersebut. Adapun prosesi dari menggali tulang hingga dikuburkan kembali ke dalam tugu, biasanya memakan waktu berhari-hari dan butuh dana yang besar, namun bagi orang Batak biaya puluhan juta untuk membangun tugu tidak sebanding dengan jasa orangtua dan para leluhur. Maka tradisi ini juga tidak dilakukan oleh semua orang Batak hanya saja dilakukan oleh mereka yang sudah mapan ekonomi. Kenapa dikatakan membutuhkan dana yang besar? Karena dalam meresmikan tugu dan acara Mangokal Holi harus diadakan adatnya sesuai dengan adat Batak. Dalam acara ini pun marga yang Mangokal Holi tulang belulang harus menjamu seluruh keluarga besar dan tetangga kampung yang dihidangkan nasi dan daging kerbau. Kemudian pada malam harinya diisi dengan kebaktian. Walau tradisi leluhur masih mereka jalankan, orang Batak Toba juga kebanyakan adalah penganut agama Kristen dan Katolik .
Kemudian acara adat ini akan di iringi musik Gondang . "nah begitu nak, salah satu tradisi kita." Ucap ayah menutup penjelasannya. "terima kasih ayah sekarang aku sudah memahaminya" sambung ku. Walaupun sedikit menyeramkan namun itulah tradisi kita sebagai warisan para nenek moyang , dan sebagai masyarakat Batak Toba kita harus menghargai dan melestarikannya.
Trumakasih buat infonya nakk😂😂
BalasHapusTingkatkan nang
BalasHapus