Esai

Esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Pengarang esai disebut esai. Esai sebagai satu bentuk karangan dapat bersifat informal dan formal. Esai informal mempergunakan bahasa percakapan, dengan bentuk sapaan saya dan seolah-olah ia berbicara langsung dengan pembaca. Adapun esai yang formal pendekatannya serius. Pengarang mempergunakan semua persyaratan penulisan.

Contoh Esai :
"Gambar Pop-up Dalam Buku Matematika Tidak Juga Menarik"
  Penggemar pelajaran matematika tidak juga bertambah dalam dunia pendidikan. Karena apa? Pusing bung!! Dengan rumus-rumusnya yang semakin tahun semakin meraja lela. Begitu jawaban teman-teman yang sepemikiran denganku. Sebenarnya apa hal yang mendasari pernyataan tersebut? Ternyata ada hal yang mungkin belum kawan-kawan ketahui, dibalik menyeramkannya pelajaran ini , yaitu pada zaman dulu pelajaran ini diajarkan oleh seorang guru yang sangat kejam, killer kalau bahasa kita jaman sekarang ini. Hal itu akhirnya terbawa-bawa hingga sekarang ditambah lagi pelajarannya selalu berurusan dengan angka-angka. Ya pusing lah, sedangkan ngurusi badan aja udah pusing apalagi berurusan dengan angka.
  Ada juga sepuluh alasan yang saya dapat dari berbagai siswa yang membenci pelajaran matematika , yaitu : 1. Guru yang membosankan
2. Jawabannya sudah jelas nggak salah ya benar!
3. Tidak ada jalan ceritanya, yang ada angka dan angka
4. Banyak rumus yang digunakan padahal yang mau dipecahkan hanya satu soal
5. Tidak tahu fungsi korelasi satu sama lain
6. Tidak bisa diharapkan
7. Gampang nyerah
8. Terpengaruh omongan hatersnya matematika
9. Takut disalahkan jika berbuat salah
10. Sulit dipahami
  Coba kawan-kawan tengok yang sepuluh itu pasti ada yang sama dengan alasan kawan-kawan. Melihat semakin banyak hatersnya , media pelajaran matematika mengeluarkan terobosan baru yaitu menggunakan literasi pada gambar di buku pelajaran, bukan dengan gambar biasa namun menggunakan gambar pop-up di setiap materi. Gambar Pop-up tersebut berbentuk angka-angka yang berisi rumus-rumus pemecah soal dari setiap materi. Pop-up yang terpasang pun sangat bagus, berwarna-warni, mudah dibentuk dan mudah diatur. Para penemu terobosan ini mungkin berharap menggunakan media ini agar menarik para peserta didik untuk menjadi fans pelajaran matematika, namun lari dari ekspektasi , ternyata hal sekeren ini pun diacuhkan para pembenci pelajaran matematika. Mereka beranggapan literasi seperti ini tidak menjadi pembius yang cukup kuat untuk mengajak mereka menyukai pelajaran matematika.
  Padahal gambar Pop-up ini sudah teruji mampu menarik minat belajar anak, namun mungkin pada pelajaran matematika gamang pop-up tidak memiliki daya tarik yang cukup berarti. Jarang sekali pelajaran sulit menggunakan media ini biasanya gambar Pop-up banyak ditemukan di buku cerita anak. Mungkin matematika harus mengeluarkan terobosan baru yang mampu membawa peserta didik untuk terbang ke awan bersama bintang-bintang agar menambah jumlah fans matematika di tingkat pendidikan.
Jangankan belajar matematika, belajar mencintai mu saja susah.

Komentar